Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Mei 2017

KITA SAMA



Apa kau pernah perlihatkan kekuatan egomu.
Atau memakaikan surai  beduri di kesombonganmu.
Apa kau pernah juga membuat sabarmu pekikkan keangkuhan.
Menebar ancaman dengan dengusan kebanggaan menyakiti perasaan.
Menertawakan rasa takut.
Hingga tak takut pada apapun.
Jika pernah...!
Maka kita sama.

Apakah tak pernah terbesit dalam hatimu.
Tuk memulai membaca sebait sabda yang tersurat agar yang ESA mau mengampuni kita.
Apakah tak pernah bergetar hatimu.
Saat mendengar keagungan namaNYA terburai dari suara para muadzin.
Terbawa angin menyelinap masuk melalui indra sentuh raga.
Apakah tak pernah juga air matamu berlinang.
Saat lidahmu keruh kala menyebut namaNYA yang sudah kita lupakan.
Jika tak pernah...!
Berarti kita sama.

Lalu bagaimana jika hari esok tak pernah datang.
Padahal waktu tak bisa diputar kembali.
Sudah terlalu banyak dosa yang kita lakukan.
Padahal sangkakala taubat di bulan penuh berkah ini sebentar lagi dibunyikan.
Mungkin sudah waktunya kita membentangkan sajadah.
meluruskan shaf.
Merapatkan barisan ruh kita.
Bersama-sama bersujud padaNYA.
Menengadahkan tangan dan menundukkan kepala.
Renungi hiasan kerincing yang butakan mata.
Renungi lesatan cambuk yang pekakkan telinga.
Renungi hujaman tombak yang perihkan luka.
Aku tak tahu apakah aku pantas mendapatkan ampunanNYA.
Yang jelas...!
Ku awali semua dengan uluran tangan.
Dan dengan kerendahan hati aku haturkan.
Kami segenap keluarga ABDUS SAMIK dan JUMROH beserta PYSMBO manajement mengucapkan.
SELAMAT DATANG RAMADHAN.
MOHON MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA.
Mari kuatkan iman.
Genapkan fardhu.
Hingga hingar-bingar kegembiraan dalam fitri menggerus silaturahmi yang pernah terlupakan.

PYSMBO.

Rabu, 03 Mei 2017

YANG TERUSIR




Gemetar tanganku ketika hendak menulis ini.
Tapi hatiku memaksa untuk terus merangkai kata.
Ntah dari mana harus ku mulai.
Apakah dari cerita permataku yang hilang.
Atau dari cintaku yang terusir oleh perbedaan kasta.
Aku hanya seorang pujangga yang tak pernah dipanggil namanya.
Yang hanya menganggap dengan menulis lebih leluasa mencurahkan perasaan.
Sedangkan dia pahlawan bertopeng.
Yang bergelimang dengan sayap terbalut tahta.
Dulu di antara kebencian dan kemiskinan.
Kita sama-sama menangis.
Kita sama-sama berjanji tuk saling menunggu.
Mana di antara dua penjemput yang datang lebih dulu.
Apakah aku yang terusir ini datang tuk menyematkan cincin di jari manismu.
Atau maut yang menjemput tuk menyatukan kita di lain dunia.
Namun kenyataan berkata lain.
Waktu silih berganti menjenguk rindu.
Akupun semakin jauh tersesat.
Namun semakin jauh pula aku tetap berpegang teguh pada janji kita.
Aku hanya tersesat tak tau arah.
Bukannya terpikat pada hati yang lain.
Itupun ku jelaskan lewat rintik hujan yang selalu menuntun jalanku menuju kamu.
Tapi kau lebih memilih pahlawan berkedok mahkota.
Kau tegaskan ikatan itu bukan suatu paksaan.
Melainkan tulus pilihanmu dan keluargamu yang tertipu oleh peran lakon pahlawan munafik.
Lalu kau layangkan  undangan perkawinan.
Saat ku baca undangan itu.
Usia mudaku seakan tak mampu menanggung beban duka yang kualami.
Beban yang menghempaskan ragaku di atas pembaringan lapuk.
Dua bulan aku terkulai menahan letih.
Dua bulan anganku memanggil namamu dalam mimpi.
Tapi keteguhan janji kita dulu yang terus membangkitkan semangatku.
Terus membangkitkan gairah hidupku yang bertekat membuat.
Perempuan harus mendongakkan santunnya untuk melihatku tersenyum.
Kini kau datang kembali.
Memanggil namaku lagi.
Setelah balutan sayap pahlawanmu luntur oleh rintik hujan yang selalu setia menemaniku.
Lantas kau menanyakan janji kita dulu.
Janji seberapa lama kita berpisah.
Kita akan tetap hanya menanti dua penjemput.
Apa aku sudah hilang di hatimu ucapmu.
Aku jawab....tidak.
Kamu tak pernah hilang di hatiku.
Cintamulah yang tlah hilang.
Kalau seperti itu maafkanlah aku pintamu.
Aku jawab...tidak.
Kamu tak bersalah.
Janjimulah yang tak mampu setia.
Sabarmulah yang membuat
Perempuan akan mengingat kekejaman seorang laki-laki meski secuil.
Dan melupakan kekejaman dirinya padahal begitu besar.
Siapa yang lebih kejam.
Aku yang terusir.
Atau kamu yang telah mengingkari janjimu hanya karena sebuah topeng.
Ingatlah permataku.
Janjiku tetap berpegang teguh seperti apa yang kau pinta untuk menjadikan kita sahabat.
Janji yang sama memegang teguh saat kita akan menunggu penjemput datang.
Pulanglah permataku.
Sampaikan salam sembah sujudku pada orang tuamu.
Aku yang terusir ini masih seperti dulu.
Meski sang pahlawan telah menjadi budakku,
Dan merelakan jandanya untukku lewat talak yang mengantarnya dalam tidur panjang.
Sampaikan juga pada janjiku.
Saat jauh dekat.
Cintaku tetap sama.
Sampaikan bahwa aku sang pujangga yang selalu merasa bodoh.
Namun tetap menjaga janjinya untuk tetap hidup dan bersemanyam di hati.
Sambil selalu berharap.
Semoga janji seperti itu tak pernah terucap dari hati para romansa yang baru mengerti arti sebuah cinta.
Wahai kapal van der wicjk sampaikan pada dunia.
Meski mutiaraku tlah hilang karena terusir oleh kasta.
Namun ia akan tetap hidup di hatiku sampai ku sempurnakan do'aku.


Note:
Rangkuman Novel dan film tenggelamnya kapal van der wick
Catata lakon drama.
Pujangga = enku zainuddin.
Hujan = bang muluk.
Permata = hayati.
Pahlawan bertopeng = azis

Kamis, 13 April 2017

RINDU HATI



Mentari menjenguk pagi dengan sinarnya.
Biasi embun memantul menyelinap ke dalam kamarku dari sela jendela.
Sinarnya terjatuh berbaris di samping tempat tidur yang lapuk.
Ku buang mata untuk melihatnya. 
Ternyata embun itu enggan bergulir.
Enggan jatuh ke tanah.
Karena takut terserap lalu musnah.
Kemudian sudut pandangku melihat secarik kertas kusam di atas meja.
Di situ tertulis kenangan kita.
Kenangan dulu saat kita habiskan malam melihat bintang yang menghilang satu persatu.
Memang kini kau tak lagi di sampingku.
Meninggalkan aku dan kenanganmu.
Akupun juga sudah menitipkan kenanganku padamu untuk selalu menemanimu.
Kita memang jauh terpisah.
Sudah tak ada lagi jawaban dari rasa yang perlu kita tunggu.
Tapi bila saja engkau tahu.
Meski wajahmu tlah terhapuskan.
Tapi tutur lembut saat kau merayu kala aku merajuk.
Masih sangat ku rindu.
Pernah ku coba berlari dan bersembunyi tuk membunuh rindu ini.
Namun tetap saja tak bisa.
Semakin ku mencoba berpaling.
Semakin kuat perasaan itu mengakar di relung hati.
Apakah kau juga merasakan seperti itu.
Lalu dengan apa aku harus melupakanmu.
Jika kau tahu caranya.
Beritahu aku.
Biar rindu ini tak mati dan bersemayam di dalam hati.
Karena sangat tak elok kalau kita sudah menempuh hidup baru.
Tapi masih ada yang lain untuk di rindu.
Ku ucapkan sekali lagi.
Aku sudah berusaha melupakanmu.
Tapi Aku tak bisa mendustai hatiku.
Untuk munafiki semua rasaku.
Kini yang ku bisa hanya haturkan maaf jika aku tak mampu melupakanmu.
Ku haturkan itu karena jika kenangan itu menghilang.
Maka ada sesuatu yang menghilang juga dari hidupku.
Yaitu....
Cinta sejati.

Pysmbo 030117 balikpapan.
Surat balasan dari rumit
For marco marcelino hitipeuw indonesia - belanda.

RUMIT


Dari jendela kamar.
Ku lihat satu persatu bintang menghilang.
Mengingatkanku pada kenangan usang berdebu namun tak hancur.
Kenangan tentang dirimu yang panas di kening, dingin di kenang.
Kadang juga kenangan itu nanar terbayang.
Yaa...!!
Kenangan yang tetap menjadi satu rahasia tak terungkap.
Karena tlah terlalu lama kenangan itu tergenang bersama puing-puing cinta di lubuk hatiku.
Lalu siapa yang akan disalahkan.
Apakah aku yang bersalah.
Apa engkau yang bersalah.
Tidak....!!
Bukan kita.
Yang salah adalah keadaan kenapa pisahkan kita.
Pisahkan cinta dan sebuah pengharapan tanpa ada hakikat kepastian.
Apa kita putus.
Apa kita terus.
Hanya hati kita yang mampu menjawabnya.
Lantas apa yang harus kulakukan.
Membiarkan kenangan itu tersenyum di pelupuk canda yang kadang berbohong.
Atau merajut kembali yang mungkin akan membuatku menari di ujung gelisah.
Tapi menurutku biarlah seperti ini saja.
Sekarang hanya ini yang bisa ku sampaikan.
Meski selamat jalan terucap dari lisanku.
Namun hatiku dengan kecewa tetap berkata.
janganlah engkau cepat berlalu.
Semoga dengan mimpimu kau bisa nikmati hidup.
Tak usah kau cemaskan aku.
Karena aku juga akan berusaha mendampingi mimpiku.
Salam rindu untukmu selalu.

Pysmbo 020117 sebuku.
For marco marcelino hitipeuw indonesia - belanda.

Senin, 06 Maret 2017

MERDEKA TANPA CINTA


Merasakan kemerdekaan tanpa cinta.

Mungkin itulah yang ku rasakan sekarang ini.

Sejak dulu semua orang lantangkan kemerdekaan negeri ini.

Tapi pernahkah ibu pertiwi menanyakan pada para pribumi.

Apakah mereka mencintai negeri ini.

Ku yakin mereka tak pernah mempunyai jawaban pasti.

Karena setiap orang mempunyai pendapat sendiri.

Jadi buat apa teriakkan merdeka kalau tidak bahagia.

Bukankah dengan kemerdekaan kita bebas bersuara.

Tapi kenapa suara kita selalu dibungkam.

Dituduh mengganngu keamanan.

Hanya karena gaya pakaian yang urakan.

Lalu dicaci berandalanlah yang anarki.

Siapa yang lebih anarki...??

Apakah Pemberi harapan tak pasti.

Yang selalu bersembunyi di balik dasi.

Apakah para korupsi.

Yang selalu pekikkan merdeka tapi selalu sembunyikan upeti.

Atau kita.

Yang katanya tak punya tujuan pasti.

Tapi selalu bisa menjaga arti sebuah ketinggian hati.

Yang selalu bangga dengan nyali.

Bukan bangga dengan hasil korupsi.

Jadi siapa yang lebih anarki...??

Kemerdekaan dengan cinta itu bukan mimpi sebelum tidur.

Tapi mimpi setelah tidur.

Jadi raihlah.

Tapi jangan pernah berharap akan mudah menggapainya.

Karena ketika waktu berputar tanpa mau kembali.

Maka tidak ada kenangan yang harus dilalui.

Ini hidup kami dengan segala warnanya.

Mana hidup dan warna kalian.

Kami merah.

Apa kalian putih.

Meski berbeda.

Jangan pandang kami dengan benci.

Tapi pandanglah kami dengan hati.

Agar kemerdekaan negeri ini bagai mentari di pangkuan pertiwi.

Agar cinta kami pada negeri ini tak seperti tungku tanpa api.

Melainkan bagaikan bintang yang selalu bersinar.

Membiasi lambang garuda yang selalu tersematkan di dalam jiwa.


Note:
Puisi ini pernah diikutsertakan dalam lomba penulisan puisi yang diselenggarakan oleh Penerbit Indie Sabana Pustaka dengan tema Bebas (Agustus 2016)